Pada hari Senin, 27 April 2009, jam 11:00-13:00, bertempat di ruang rapat SDN Ungaran I, telah dilakukan serah terima jabatan Kepala Sekolah SDN Ungaran I, dari Bapak Drs. Tukiman kepada Bapak Mardi, SPd. Bapak Tukiman selanjutnya bertugas sebagai Kepala SDN Kotagede I yang masuk di wilayah Yogyakarta Timur dan merupakan salah satu SD favorit di wilayah Kotagede. Bapak Mardi sebelumnya adalah Kepala SDN Lempuyangwangi, yang masih satu wilayah dengan SDN Ungaran I.

Pak Mardi (Kepsek baru), Pak Farozin (Ketua Komsek), Pak Tukiman (Kepsek lama)
Selain itu, salah satu guru senior SDN Ungaran I, Ibu Dewi Partini, juga harus meninggalkan sekolah tercinta karena mendapat tugas baru sebagai Kepala SDN Tukangan di Kecamatan Pakualaman. Di SD tersebut sudah beberapa bulan tidak memiliki kepala sekolah.
Pada tanggal 4 April 2009 yang lalu, Pemkot Yogyakarta mengadakan rotasi besar-besaran pada jajaran kepala sekolah, bahkan termasuk kepala sekolah yang baru menjabat 1,5 tahun ikut dirotasi. Hanya kepsek yang akan pensiun pada tahun 2009 ini yang tidak ikut dirotasi. Maksud diadakannya rotasi adalah untuk penyegaran dan pengembangan potensi di tempat yang baru. Hal ini berlaku untuk pejabat kepala sekolah, maupun bagi sekolahnya sendiri.

Bu Novia Kolopaking, Bu Atika, dan Bu Dewi (pindah ke SDN Tukangan I)
Namun banyak pihak menyayangkan waktu rotasi, karena semua sekolah sedang menyiapkan ujian nasional dan persiapan penerimaan siswa baru. Semua kepala sekolah tentu sedang memimpin kerja besar tersebut, namun tiba-tiba dipindah, sudah barang tentu membuat sekolah yang ditinggalkan maupun yang dituju, menjadi kalang kabut.
Bahkan ada juga guru yang ditugasi menjadi kepsek di SD lain, seperti Ibu Dewi, terpaksa harus meninggalkan kelas yang diasuhnya. Bagi murid-muridnya, waktu yang tinggal 1-2 bulan ini kalau harus diasuh oleh guru baru, tentu bukan hal yang mudah untuk menyesuaikannya. Mengapa ya mereka tidak diberi waktu untuk menyelesaikan tugasnya hingga akhir tahun ajaran? Ah, aturan harus ditegakkan, apapun konsekuensinya! Mungkin itu yang ada di benak para pengambil keputusan. Harus tegel memang ya?

Bu Novia dan Bu Atika hobi difoto

Bu Dewi menerima ucapan selamat.
Belum lagi isu sekolah gratis yang sudah dicanangkan oleh Pemkot sejak 1 Januari 2009, dan itu persis di tengah tahun anggaran sekolah yang biasanya dari Juni hingga Juli. Bagaimana mungkin di tengah tahun anggaran tiba2 ada keputusan strategis untuk melarang semua jenis pungutan, karena pemerintah telah membantu melalui BOS (Rp400.000 per anak per tahun) dan BOSDA (Rp250.000 per anak per tahun). Padahal banyak sekolah favorit selama ini mengeluarkan dana setidaknya Rp750.000 per anak per tahun, jadi ada kekurangan minimal Rp100.000 per anak per tahun. Tetapi tidak boleh ada pungutan dalam bentuk apapun. Lalu bagaimana menutup kekurangannya, misalnya untuk memperbaiki pintu atau atap yang sudah bolong? Sementara ini lupakan dulu lah pembangunan lab komputer atau sarana olah raga yang sekaligus sebagai tempat bermain bagi siswa ketika istirahat.
Memang berat tugas menjadi kepala sekolah sekarang ini. Namun ketiga kepala sekolah baru yang telah disebut di atas, tetap bertekad untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikan kepada murid-muridnya, semata-mata demi amanah yang dipercayakan oleh Tuhan YME kepada mereka. Semoga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Selamat Bu Dewi, Pak Tukiman, dan Pak Mardi.

Ditulis oleh Wing Wahyu Winarno 
Ditulis oleh Wing Wahyu Winarno
Ditulis oleh Wing Wahyu Winarno 
